NGULIK IDE HUMOR UNTUK KARTUNIS Bag. 1

Oleh : NON-O S PURWONO

Pendahuluan:

Ketika Otak Mulai Serius, Humor pun Nggak Jalan
Banyak kartunis yang bingung: gimana caranya dapet ide lucu tiap hari? Kadang udah duduk depan kertas, pensil di tangan, tapi kepala kayak terminal kosong. Mau lucu tapi malah garing. Mau nylekit tapi takut diserang netizen. Nah, di sinilah pentingnya ngulik ide humor — biar otak kanan dan kiri kerja bareng.
Humor itu bukan cuma “yang bikin ketawa”, tapi juga cara berpikir. Dan buat kartunis, humor adalah senjata berpikir visual — gabungan antara ide, empati sosial, dan kemampuan menertawakan hidup tanpa kehilangan nurani.


  1. Otak Kartunis: Pabrik Ide Gila tapi Tetap Logis
    Otak kartunis itu kayak pabrik ide yang jalannya unik: setengah logika, setengah ngawur. Tapi justru dari “ngawur” itulah muncul gagasan yang orisinal. Proses berpikir ini sering disebut lateral thinking — konsep yang diperkenalkan oleh Edward de Bono.
    Kalau logika biasa itu berpikir vertikal (dari A ke B ke C, lurus dan berurutan), maka lateral thinking itu loncat ke samping — dari A bisa langsung ke Z, tapi tetap nyambung.
    Misalnya gini:
    Orang logis mikir: “Kalau bensin naik, rakyat susah.”
    Kartunis mikir: “Kalau bensin naik, rakyat bisa JOGET Pacu Jalur rame-rame di depan gedung DPR.”
    Lihat bedanya? Yang satu ngeluh, yang satu ngelucu. Tapi dua-duanya ngomongin hal yang sama — cuma cara pandangnya aja yang beda.

  1. Asosiasi dan Disosiasi: Dua Mesin Rahasia Otak Kanan
    Nah, biar bisa “loncat-loncat” kayak tadi, kartunis butuh dua alat utama di kepala: asosiasi dan disosiasi.
    ASOSIASI:
    Ini kemampuan ngait-ngaitin hal yang kelihatannya nggak nyambung jadi lucu.
    Contoh:
    Lihat gambar orang antre minyak goreng, otak asosiasi bisa mikir: “Wah, ini mirip antre nonton bioskop!”
    Dari asosiasi inilah muncul plesetan, metafora, atau analogi yang bikin pembaca mikir “wah bener juga ya!” sambil senyum miring.
    DISOSIASI
    Kebalikannya. Ini kemampuan memisahkan hal-hal yang selama ini dianggap satu kesatuan.
    Misal:
    Orang bilang “keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia.”
    Kartunis disosiasi: “Oh, berarti kalau nggak seluruh, ya nggak adil dong!”
    Dengan cara disosiasi, kartunis bisa “membedah” makna dan menelanjangi kemunafikan dengan humor yang halus tapi nyelekit menggigit.
    BERSAMBUNG

Scroll to Top