Pameran Kartun Internasional “Interfaith” Teguhkan Kerukunan Beragama

Semarang — UIN Walisongo Semarang kembali meneguhkan perannya sebagai pusat pengembangan dialog dan kerukunan antaragama dengan menyelenggarakan Pameran Internasional “Interfaith”, yang digelar pada 15–30 November 2025 di Galeri Nusantara, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo. Pameran ini menghadirkan karya seniman lintas negara yang menggambarkan makna perdamaian, toleransi, kemanusiaan, serta perjumpaan antara berbagai tradisi spiritual dunia.
Pameran “Interfaith” menjadi rangkaian kegiatan dari agenda besar “Indonesian Interfaith Scholarship 2025”, sebuah forum akademik internasional yang melibatkan peneliti, dosen, pemimpin komunitas lintas iman dari berbagai negara, dan delegasi khusus dari Austria. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI, Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Austria, serta UIN Walisongo Semarang.
Menghadirkan Seni sebagai Ruang Dialog Antar Iman
Lebih dari 50 karya seni rupa — meliputi lukisan, kartun, ilustrasi, dan instalasi — dipamerkan dalam kegiatan ini. Para peserta berasal dari Indonesia, Austria, India, Mesir, Ukraina, Iran, Arab Saudi, Rusia, dll. Seluruh karya dipilih karena menghadirkan pesan kemanusiaan universal yang menjadi titik temu nilai-nilai antaragama.

Salah seorang peserta pameran, pelukis Nana Mardiana, menegaskan kebanggaannya turut berpartisipasi dalam event seni yang langka ini. Menurut Nana, seni dapat menjadi “bahasa bersama” yang melampaui sekat perbedaan. Setiap karya mendorong pengunjung untuk memahami keberagaman melalui perspektif empatik dan kreatif, sekaligus merayakan kekayaan spiritual dalam kehidupan masyarakat global.

Kepala PKUB Kemenag RI: Interfaith sebagai Cermin Pengalaman Indonesia

Dalam sambutan pembukaan, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI, M. Adib Abdussomad, M.Ag., M.Ed., Ph.D menegaskan bahwa pameran internasional ini merupakan upaya strategis untuk memperkenalkan pengalaman Indonesia dalam mengelola kerukunan umat beragama kepada dunia.ini bukan sekadar menampilkan karya sekegiatan ini, dibangun melalui dia
Ia menambahkan bahwa kerja sama antara Kemenag, Kemenlu, Kedutaan Besar Austria, dan UIN Walisongo mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia, khususnya dalam isu toleransi, moderasi beragama, dan perdamaian global.

Dukungan Presiden Kartunis Indonesia

Kolaborasi Akademisi dan Seniman
Sementara itu, Presiden Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti), Abdullah Ibnu Thalhah, yang juga dosen Prodi Ilmu Seni dan Arsitektur Islam UIN Walisongo, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus, ilmuwan, dan para seniman, khususnya kartunis, untuk membangun dialog lintas iman melalui kreativitas visual.

“Seni, terutama kartun, memiliki kekuatan luar biasa untuk menyampaikan pesan moderasi dan kemanusiaan dengan cara yang menyentuh dan mudah dipahami. Pakarti mendukung penuh kerja sama antara akademisi, perguruan tinggi, dan komunitas seniman. Pameran Interfaith ini adalah bukti bahwa seni dapat menjadi jembatan yang memper
Sebagai tokoh seni dan akademisi, Abdullah Ibnu Thalhah menambahkan bahwa pameran ini menjadi momentum untuk memperkuat peran kampus sebagai ruang perjumpaan inklusif yang merawat harmoni.

Keragaman Sebagai Identitas Indonesia

Wakil Rektor I UIN Walisongo Prof. Dr. Mucksin Jamil, M.Ag. menyampaikan bahwa pameran “Interfaith” selaras dengan visi kampus sebagai “Kampus Kemanusiaan dan Peradaban”. Melalui agenda ini, kampus turut memperkuat diplomasi budaya serta memberi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk merayakan keberagaman melalui karya seni.
Sebagaimana disampaikan oleh ketua panitia, Thiyas Tono Taufiq, S.Th.I., M.Ag. yang juga Sekjur Studi Agama Agama (SAA) bahwa pameran ini digagas untuk menjadi ruang perjumpaan yang tulus dan jujur antara agama, budaya, serta kemanusiaan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh seniman, mitra lembaga, dan mahasiswa yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini.
Pameran ‘Interfaith’ dibuka untuk umum setiap hari pukul 09.00–17.00 WIB, dan akan diisi pula oleh sesi diskusi seniman, serta kunjungan mahasiswa lintas fakultas dan komunitas lintas agama.
Pameran internasional “Interfaith” diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia — dan dunia — untuk merawat persatuan, menjaga toleransi, serta membangun masa depan yang damai melalui kreativitas, dialog, dan saling pengertian.

Scroll to Top