Semarang. Pakarti — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan maestro kartun Indonesia, Jitet Kustana. Kartunis kelahiran 1967 itu sukses meraih Gold Medal dalam ajang kompetisi kartun internasional Free Cartoon Web Festival 2025 di China. Penghargaan tersebut semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kartunis Indonesia dengan rekam jejak paling gemilang di panggung dunia.
Jitet yang dikenal sebagai kartunis pemegang rekor peraih 180 lebih penghargaan kartun dunia, justru mengaku sudah tidak lagi menghitung jumlah medali yang berhasil ia raih. Saat ditanya penghargaan itu merupakan yang ke berapa, ia hanya tersenyum.

“Saya malah sudah lupa ini penghargaan yang ke berapa, karena memang sudah terlalu banyak,” ujarnya sambil tertawa.
Bagi Jitet, penghargaan internasional bukanlah tujuan utama dalam berkarya. Di balik ratusan karya yang lahir dari tangannya, ia memegang satu keyakinan sederhana bahwa kartun adalah media untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat.
“Buat saya, kartun adalah sarana ibadah. Karena kartun mengingatkan orang pada kebaikan dengan humor, maka ia adalah ibadah,” katanya.
Di sisi lain, Jitet tidak menutup mata bahwa profesi kartunis juga merupakan jalan hidup yang memberi nafkah bagi keluarganya.
“Dan buatku, ngartun adalah kerja menafkahi keluarga,” tambahnya.
Perjalanan panjang Jitet sebagai kartunis tidak lepas dari lingkungan kreatif yang membesarkannya di Semarang. Ia mengenang awal mula ngartun tahun 1989, masa-masa belajar bersama para senior yang menjadi fondasi penting dalam perjalanan artistiknya.

Nama-nama seperti Yehana, pendiri Semarang Cartoon Club (SECAC), kemudian Darminto, pendiri Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG), Prie GS, hingga Goenawan Pranyoto, pencipta kartun Wayang Mbeling, menjadi sosok-sosok yang banyak membentuk cara pandangnya terhadap dunia kartun.
“Dulu saya sering tidur di rumah Mas Yehana. Di sana saya sering bertemu tokoh-tokoh yang saya sebutkan tadi. Saya senang sekali menjadi pendengar, walaupun harus mijitin Mas Darminto,” kenangnya sambil tersenyum.
Menurut Jitet, kebersamaan dengan para senior bukan hanya menjadi ruang belajar teknik menggambar, tetapi juga sekolah kehidupan. Dari mereka ia belajar tentang kerendahan hati, ketekunan, dan keberanian menyampaikan kritik sosial melalui bahasa humor yang cerdas.
Selama puluhan tahun berkarya, Jitet dikenal konsisten mengangkat isu-isu kemanusiaan, lingkungan, perdamaian, hingga kritik sosial dalam karya-karyanya. Karakter visual yang kuat, dipadukan dengan gagasan yang universal, membuat karyanya berulang kali mendapat pengakuan dari berbagai kompetisi kartun internasional.

Raihan Gold Medal pada Free Cartoon Web Festival 2025 di China menjadi bukti bahwa kartun Indonesia terus memiliki tempat terhormat di panggung dunia. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media digital, Jitet menunjukkan bahwa kekuatan sebuah kartun tetap terletak pada gagasan yang jujur, humor yang cerdas, dan pesan kemanusiaan yang melampaui batas bahasa maupun negara.
Bagi Jitet Kustana, penghargaan hanyalah konsekuensi dari ketekunan. Yang lebih penting adalah menjaga semangat berkarya dengan hati, menjadikan humor sebagai cara mengingatkan sesama pada kebaikan, serta menjadikan setiap goresan tinta sebagai bentuk pengabdian kepada keluarga, masyarakat, dan Tuhan. (Redaksi-Pakarti).




