Yogyakarta – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan kartunis Indonesia. Atmaja Septa Miyosa, kartunis kelahiran Sleman, 1986, berhasil meraih Gold Medal pada ajang kompetisi kartun internasional Italian Championship of Lies. Penghargaan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan kariernya setelah hampir dua dekade aktif mengikuti kompetisi kartun dunia.
Bagi Septa, medali emas ini memiliki makna yang sangat istimewa. Selama bertahun-tahun mengikuti berbagai kompetisi internasional, pencapaian terbaiknya sebelumnya selalu berada di posisi kedua.
“Rasanya tentu saja senang, sebab selama ini posisi paling maksimal hanya sampai kategori silver. Baru kali ini berada di posisi puncak,” ujarnya dengan bangga kepada Redaksi Web Pakarti.

Prestasi ini melengkapi sederet penghargaan internasional yang telah diraihnya. Pada tahun lalu, ia memperoleh penghargaan Best Work dalam The 12th Edition International Caneva Ride Award di Italia, serta meraih Silver Panda Prize pada The 7th Gold Panda International Competition di China.
Perjalanan Septa menuju panggung dunia bukanlah sesuatu yang instan. Ia mengenang awal kiprahnya mengikuti kompetisi kartun internasional pada tahun 2007.
“Sebetulnya saya mulai ngirim perdana untuk kontes internasional tahun 2007, dan saat itu langsung mendapat Success Award dari Syria. Sejak itu saya mulai rutin mengirim karya. Dulu biasanya mengirim secara kolektif dengan kartunis lain untuk menghemat ongkos kirim perangko,” kenangnya.
Di balik berbagai penghargaan yang diraih, Septa yang aktif di bidang Pendidikan dan Kaderisasi Dewan Pimpinan Nasional Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) ini mengaku pernah melewati masa-masa sulit. Tantangan terbesarnya bukan hanya menghasilkan gambar yang menarik, tetapi juga menerjemahkan tema-tema besar yang diangkat dalam kompetisi internasional.

“Dulu saya selalu sulit menerjemahkan tema-tema lomba karena biasanya berat, seperti lingkungan, politik, krisis, dan sebagainya. Saya juga kesulitan menentukan objek, simbol, serta teknik melukis yang waktu itu masih terus belajar,” tuturnya.
Dalam proses kreatifnya, Septa banyak belajar dari para kartunis senior Indonesia, salah satunya maestro kartun Semarang Jitet Kustana . Menurutnya, mengamati karya para kartunis dunia menjadi salah satu cara terbaik untuk mengembangkan kualitas visual maupun gagasan.
Sebagai dosen seni di Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta, Septa juga membagikan pandangannya mengenai kunci menghasilkan karya yang mampu bersaing di tingkat dunia. Menurutnya, kekuatan kartun tidak hanya terletak pada kualitas gambar, tetapi juga pada kecerdasan membaca simbol dan menghadirkan humor.
“Di samping visual yang apik, perlu juga pilihan simbol dan narasi yang lucu,” katanya.
Kepada para kartunis Indonesia, Septa berpesan agar tidak mudah ragu untuk terus berkarya dan mengikuti kompetisi internasional.
“Harapan saya, secara pribadi, agar tetap berusaha mengirim karya. Walaupun kadang ide terasa tidak begitu meyakinkan, tetap saya usahakan untuk dikirim. Untuk teman-teman kartunis yang lain, saya berharap rutin mengirim juga. Karena bisa jadi ide yang kita kira biasa saja ternyata justru menarik bagi juri.”

Keberhasilan Atmaja Septa Miyosa menjadi bukti bahwa konsistensi, ketekunan, dan keberanian untuk terus berkarya mampu mengantarkan seniman Indonesia meraih pengakuan di panggung internasional. Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda kartunis Indonesia untuk terus berkarya, berkompetisi, dan membawa nama bangsa melalui bahasa universal bernama kartun.
Selamat kepada Atmaja Septa Miyosa atas raihan Gold Medal di Italian Championship of Lies. Semoga prestasi ini menjadi pemantik lahirnya lebih banyak kartunis Indonesia berkelas dunia. (Redaksi)




